Menyikapi 5 Pertanyaan Penggoda Pedagang Berbohong


Sobat-sobat Kios Madinah yg baik, pada kesempatan yg baik ini admin ingin berbagi sebuah postingan berlabel: "Cara Transaksi", berjudul:

MENYIKAPI 5 PERTANYAAN PENGGODA PEDAGANG BERBOHONG DAN CARANYA

Di saat kita bertransaksi jual-beli dengan pelanggan, tentu sering mendengar pertanyaan  yg terlontar dari mereka. Selaku pedagang semestinya kita berupaya bagaimana caranya agar tidak sampai tergoda utk berbohong demi menjawab pertanyaan mereka. Bahkan berupaya sebisa mungkin menjawab pertanyaan mereka dgn sebaik-baiknya, seramah-ramahnya dan sejujur-jujurnya.

Namun apa yg terjadi kemudian? Ternyata jika pertanyaan tersebut mengarah kepada persoalan harga barang maka sangat dimungkinkan si pedagang tergoda utk tidak berkata jujur. Jangankan sampai selisih harga hingga ratusan ribu, selisih seratus rupiah pun sering menyebabkan pedagang tergoda utk berbohong. ( Ma'af buat pedagang yg tidak demikian ).

Lalu bagaimana cara menyikapinya? Oke, berikut ini adalah 5 pertanyaan yg ditengarai sering menggoda pedagang berbohong

1. Bagaimana kwalitas barang?

Pertanyaan semacam ini biasanya dilontarkan oleh calon pembeli yg belum pernah memakai atau mengkonsumsi barang dimaksud. Pertanyaan tersebut cenderung mengundang pedagang menjawab bahwa barang itu bagus atau bahkan lebih bagus dari kwalitas sebenarnya.

Jika kita selaku pedagang mengetahui kwalitas barang tersebut memang  betul-betul bagus, baik karena pembuktian sendiri atau melalui penuturan pembeli lain, lalu kemudian menjawab bagus maka kita terbebas dari bohong. Tapi jika kita tidak demikian dan hanya megada-ada jawaban maka berarti kita sudah tergoda utk berbohong.

Sebenarnya hal ini dapat disikapi dgn cara menjawab bahwa saya hanya menjual saja atau "selama ini pembeli lain tidak pernah komplain" atau jawaban umum lain misalnya: kwalitas itu biasanya setara dgn harga.

2. Cocokkah barang ini dgn saya?

Pertanyaan ini juga cenderung menggoda pedagang utk berbohong. Kalau kita menjawab"cocok aja", kemungkinan si calon pembeli masih melirik ke barang lainnya. Tapi jika kita menjawab "cocok banget", maka kemungkinan ia segera membelinya.

Permasalahan bagi kita selaku pedagang adalah mengenai jawaban 'cocok banget' tersebut. Apakah kita menjawabnya krn keadaan barang tersebut memang demikian atau krn menginginkan supaya barang kita segera ia beli. Jika kita menjawab dgn sebenarnya maka kita terlepas dari bohong, tapi jika kita sekedar mengada-ada berarti kita sudah tergoda.

Sebenarnya hal ini bisa disikapi dgn cara menjawab bahwa setiap orang merasa senang dgn barang pilihannya sendiri, atau "anda lebih tau dari saya apa yg paling cocok dgn selera anda" atau jawaban semacamnya.

Atau mungkin dijawab dgn nada humor, misalnya: "Pedagang ditanya gituan? Ya pasti dijawab cucok boanget lah". Intinya yaitu kita memberikan jawaban tapi tidak mutlak dari kita selaku pedagang.

3. Dimana barang dibeli?

Pertanyaan semacam ini biasanya terlontar dari pembeli berpengalaman atau pelanggan lama. Ada kemungkinan jawaban kita akan dijadikan referensi mereka atau mereka hanya sekedar iseng atau karena maksud baik lain.

Jika kita menjawab dgn mengada-ada berarti kita sudah tergoda utk bohong, tapi jika menjawab yg sebenarnya terkadang kita masih merasa keberatan.

Sebenarnya hal ini lebih baik dijawab dgn jawaban yg real. Tapi jika tidak memungkinkan maka kita jawab dgn nada humor tp real, misalnya: "Saya biasanya beli di kota ini tapi tokonya suka tutup, kalau malam". Atau jawaban humor lainnya.

4. Berapa harga beli barang?

Pertanyaan semacam ini juga biasa ditanyakan oleh pembeli berpengalaman atau pelanggan lama. Boleh jadi jawaban kita akan dibuat referensi mereka atau mungkin karena mereka ingin mendapatkan barang dgn harga yg murah atau krn maksud baik lain.

Jika kita menjawab dgn mengada-ada berarti kita sudah tergoda utk bohong, tapi jika kita menjawab yg sebenarnya, jujur admin sendiri masih merasa sulit.

Dalam hal ini sebenarnya lebih baik dijawab dgn jawaban yg real. Tapi jika tidak memungkinkan maka kita jawab dgn diam atau dgn jawaban bernada humor tp real, misalnya: "Diam bukan krn tdk tau" atau "Ini rahasia perusahaan".

5. Kapan barang akan tersedia?

Pertanyaan semacam ini biasa terjadi pada barang yg cepat laku tapi stok di suplier terbatas, agen yg jauh, atau kendala lain. Hal ini sering menggoda pedagang utk menjawab spontan demi menjaga nama baik toko atau kesetiaan pelanggan.

Jika ternyata jawaban kita meleset dari kenyataan tanpa disertai ucapan Insya Allah, maka kita sudah terkategori bohong. Namun jika ternyata sesuai dgn kenyataan maka Alhamdulillah kita selamat.

Dalam hal ini sebaiknya kita senantiasa melatih dan membiasakan diri mengucapkan Insya Allah atau setidaknya menyertakan kata mungkin di saat kita kedapatan pertanyaan semacam ini.

Demikianlah postingan dgn judul: Menyikapi 5 Pertanyaan yang Sering Mengundang Pedagang Berbohong, diposting pada label: Cara Transaksi.

Jika Sobat ada pengalaman lain yg berbeda dgn hal-hal di atas, silahkan Sobat tuliskan di kotak komentar.

Oke, semoga bermanfaat, menjadi pengingat bagi admin khususnya, pembanding pengalaman bagi Sobat-sobat sesama pedagang, dan penambah wawasan bagi Sobat-sobat Kios Madinah pada umumnya. Thank you and see you. Insya Allah.

Comments